See You, J
Beberapa hari ini kamu merasa sangat bahagia karena
menghabiskan waktu dengan orang yang kamu sukai. Bukan sebuah kencan, melainkan membantunya mengerjakan tugas-tugas yang
diberikan dosen. Kamu lelah, tetapi kamu juga senang karena lelahmu diakibatkan
membantu seseorang, yang mana orang itu adalah dia.
Kamu rasanya ingin menghentikan waktu saat
itu, atau membuat waktu berjalan lebih lambat supaya kamu bisa meresapi
kebahagiaan yang hinggap di hati itu dalam-dalam. Ini seperti mimpi bagimu. Ini
juga adalah salah sesuatu yang kamu khayalkan.
Kebahagiaan yang kamu rasakan semakin besar
saat pagi tadi kalian pergi ke toko buku bersama untuk pertama kalinya. Kamu
tidak bisa berhenti tersenyum sepanjang jalan pulang. Benar-benar, kamu ingin hidup
pada waktu itu saja. Bersamanya.
Kamu ingin berdiri di panggung memakai toga,
berdua bersamanya. Dan kamu yakin, dia yang pernah bilang tidak menyukai prodi
arsitektur yang dipilihnya itu, sekarang sudah menyukainya karena dia tidak
semalas dulu lagi.
Namun, pagi ini, kebahagiaan itu sirna bak
disapu badai. Dia
berdiri di depan pintu rumahmu. Membawa koper dan tas punggung. Berkata mau
pamit pergi.
“Aku pindah, Nila.
Aku pindah kampus. Ke pulau seberang.”
“Julian … kenapa?”
“Aku udah pernah bilang kan, sama kamu? Masuk
prodi ini bukan pilihanku, dan sekarang aku diberi kesempatan buat memilih
sesuai keinginanku sendiri.”
“Tapi … kulihat kamu udah mulai rajin
dibanding dulu.”
“Itu terpaksa. Aku nggak tega ngeliat kamu
terus ngasih semangat supaya aku nggak males. Dan sebenernya aku cukup
tertekan, Nil.”
Air matamu mulai menitik, dan dalam hitungan
detik turun deras membasahi pipi. Kamu melihatnya memalingkan wajah, menunduk
sebentar, lalu kembali menatapmu dengan rahang mengeras.
“Aku mau kamu bantuin aku, ngajak kamu ke
toko buku, itu sebagai perpisahan. Di samping suapaya kamu senang, karena
menghabiskan waktu dengan orang yang disukai itu membahagiakan, kan? Aku tau,
Nil, kamu suka sama aku. Makasih banyak. Tapi aku yang hatinya sering berantakan
ini nggak bisa membalasnya.” Ia menatapmu dengan tatapan sendu.
“Nila, maaf, aku harus ninggalin kamu. Tapi
bukan berarti kita nggak akan ketemu lagi, kan?”
“Iya.” Kamu menjawab pendek. Tidak sanggup
berkata yang lebih panjang. Dadamu rasanya sesak. Ternyata kamu salah.
Arsitektur tidak juga menjadi sesuatu yang Julian sukai. Malah cowok itu
tertekan karenanya. Dan kamu adalah salah satu pendukungnya. Pendukung Julian
tertekan dan semakin berantakan.
“Maafin aku, ya,” ucapmu dengan suara serak.
“Aku kira kamu
udah suka sama prodi ini, Ju.”
Julian menggeleng. Ia mencoba mengusir sedih yang
melingkupimu dengan senyuman manisnya. “Kayak yang udah sering kamu lihat, aku
suka musik, dan akan masuk ke prodi itu.”
Kamu mengangguk-angguk paham. Ya, kamu jelas
tahu itu. “Dan kamu bakal pindah.”
“Iya.”
“Aku boleh minta satu permintaan?”
“Boleh.”
“Tolong jangan hilang dari aku. Tolong jangan buat aku nggak bisa
menghubungi atau liat kamu. ”
“Oke, nggak akan. Aku
janji. Aku pamit sekarang, ya. ”
“Hati-hati, Julian. ”
“Iya, Nil. Kamu juga. See you. ”
Tamat