Rabu, 25 Januari 2023

See You, J [Cerpen]

 See You, J 

 

Beberapa hari ini kamu merasa sangat bahagia karena menghabiskan waktu dengan orang yang kamu sukai. Bukan sebuah kencan, melainkan membantunya mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dosen. Kamu lelah, tetapi kamu juga senang karena lelahmu diakibatkan membantu seseorang, yang mana orang itu adalah dia.

   Kamu rasanya ingin menghentikan waktu saat itu, atau membuat waktu berjalan lebih lambat supaya kamu bisa meresapi kebahagiaan yang hinggap di hati itu dalam-dalam. Ini seperti mimpi bagimu. Ini juga adalah salah sesuatu yang kamu khayalkan.

   Kebahagiaan yang kamu rasakan semakin besar saat pagi tadi kalian pergi ke toko buku bersama untuk pertama kalinya. Kamu tidak bisa berhenti tersenyum sepanjang jalan pulang. Benar-benar, kamu ingin hidup pada waktu itu saja. Bersamanya.

   Kamu ingin berdiri di panggung memakai toga, berdua bersamanya. Dan kamu yakin, dia yang pernah bilang tidak menyukai prodi arsitektur yang dipilihnya itu, sekarang sudah menyukainya karena dia tidak semalas dulu lagi.

   Namun, pagi ini, kebahagiaan itu sirna bak disapu badai. Dia berdiri di depan pintu rumahmu. Membawa koper dan tas punggung. Berkata mau pamit pergi.

   “Aku pindah, Nila. Aku pindah kampus. Ke pulau seberang.”

   “Julian … kenapa?”

   “Aku udah pernah bilang kan, sama kamu? Masuk prodi ini bukan pilihanku, dan sekarang aku diberi kesempatan buat memilih sesuai keinginanku sendiri.”

  “Tapi … kulihat kamu udah mulai rajin dibanding dulu.”

   “Itu terpaksa. Aku nggak tega ngeliat kamu terus ngasih semangat supaya aku nggak males. Dan sebenernya aku cukup tertekan, Nil.”

   Air matamu mulai menitik, dan dalam hitungan detik turun deras membasahi pipi. Kamu melihatnya memalingkan wajah, menunduk sebentar, lalu kembali menatapmu dengan rahang mengeras.

   “Aku mau kamu bantuin aku, ngajak kamu ke toko buku, itu sebagai perpisahan. Di samping suapaya kamu senang, karena menghabiskan waktu dengan orang yang disukai itu membahagiakan, kan? Aku tau, Nil, kamu suka sama aku. Makasih banyak. Tapi aku yang hatinya sering berantakan ini nggak bisa membalasnya.” Ia menatapmu dengan tatapan sendu.

   “Nila, maaf, aku harus ninggalin kamu. Tapi bukan berarti kita nggak akan ketemu lagi, kan?”

   “Iya.” Kamu menjawab pendek. Tidak sanggup berkata yang lebih panjang. Dadamu rasanya sesak. Ternyata kamu salah. Arsitektur tidak juga menjadi sesuatu yang Julian sukai. Malah cowok itu tertekan karenanya. Dan kamu adalah salah satu pendukungnya. Pendukung Julian tertekan dan semakin berantakan.

   “Maafin aku, ya,” ucapmu dengan suara serak.  “Aku kira kamu udah suka sama prodi ini, Ju.”

   Julian menggeleng. Ia mencoba mengusir sedih yang melingkupimu dengan senyuman manisnya. “Kayak yang udah sering kamu lihat, aku suka musik, dan akan masuk ke prodi itu.”

   Kamu mengangguk-angguk paham. Ya, kamu jelas tahu itu. “Dan kamu bakal pindah.”

   “Iya.”

   “Aku boleh minta satu permintaan?”

   “Boleh.”

   “Tolong jangan hilang dari aku. Tolong jangan buat aku nggak bisa menghubungi atau liat kamu. ”

   Oke, nggak akan. Aku janji. Aku pamit sekarang, ya. ”

  “Hati-hati, Julian. ”

   “Iya, Nil. Kamu juga. See you. ”

 

 

 

Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

See You, J [Cerpen]

 See You, J     Beberapa hari ini kamu merasa sangat bahagia karena menghabiskan waktu dengan orang yang kamu sukai. Bukan sebuah kencan...