Sabtu, 03 April 2021

Antah Berantah [Cerpen]

Aku memandang cowok tampan di sampingku yang sedang mengerjakan soal matematika di buku yang ada di pangkuannya dengan serius. Keningnya yang sebagian tertutup poni sedikit berkerut. 

   "Kamu siapa, sih?" tanyaku padanya. Dia mengangkat wajahnya dan menatapku.

   "Aku orang," jawabnya, lalu kembali menekuri buku matematikanya.

   Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Iya, aku tahu kalau dia orang. Yang aku pertanyaan adalah kenapa dia ada di sini, bersamaku pula. Eh, aku juga tidak tahu kenapa bisa di sini. 

   "Kenapa aku bisa ada di sini, ya? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanyaku. Sangat berharap dia menjawab pertanyaanku dengan serius.

   "Aku juga nggak tau," jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang tengah ia tulisi. Ya ampun, begitu lihainya ia mengerjakan soal-soal matematika yang ada di buku itu. Sret sret sret. Dalam hitungan detik soal itu sudah ketemu jawabannya.

   "Hebat banget sih kamu. Bisa secepat itu ngerjainnya," pujiku sungguh-sungguh. Kalau aku, butuh waktu beberapa bermenit-menit untuk menyelesaikan soal itu. Tentu saja dengan membuka buku catatan dan garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

   "Makasih," ujarnya dengan senyuman di bibirnya. Kembali menekuri buku matematikanya. Ia terlihat tambah tampan jika tersenyum.

   "Oh iya nama kamu siapa?" tanyaku.

   "Lan."

   "Ha?" Siapa? Kurasa aku hanya mendengar sebagian kata yang ia ucapkan.

   Ia meletakkan pensilnya dan menoleh padaku. "Lan," ucapnya dengan suara lebih keras dari yang tadi.

   Aku tertawa. Namanya unik sekali. "Namanya unik!" seruku.

   Lan tersenyum lebar. "Kalau kamu?"

   "Cahaya."

    "Siapa?" tanyanya. Padahal aku rasa ia sudah mengucapkan dengan jelas.

    "Cahaya!" Aku berseru dan ia mengangguk. Lan kembali menekuri buku matematikanya.

   Beberapa saat kemudian kami sama-sama terdiam. Lan masih asyik mengerjakan soal-soal matematika di bukunya. Sedangkan aku menatap ke sekitar dengan kening berkerut. Masih bertanya-tanya di mana kami berada dan kenapa bisa ada di tempat ini.

   Kami berada di sebuah teras berlantai keramik putih. Ada tembok di belakang kami tanpa pintu dan jendela. Tidak ada apa-apa lagi. Sekitar teras adalah kabut berwarna putih pekat. Udaranya sejuk. Samar-samar, tercium bau harum bunga. Entah bunga apa. Baunya enak. 

   Aku menoleh pada Lan dan bertanya padanya, "Kamu tau nggak kenapa kita ada di sini?"

   Lan menggeleng sebagai jawaban.

   "Kamu nggak berniat nyari tau?" tanyaku lagi.

   Lan menggeleng lagi. 

   Aku mendesah pelan. Kenapa dia tampak biasa-biasa saja, sih? Ia tidak penasaran kenapa bisa ada di sini? 

   "Kamu nggak penasaran kenapa ada di sini? Nggak pengen nyari tau?"

    Lan meletakkan pensilnya. Ia menoleh padaku dengan mata menajam. Seolah aku telah melakukan hal yang fatal padanya.

   "Nggak," jawabnya. "Udah ya, jangan tanya-tanya terus. Aku lagi ngerjain ini," ucapnya sambil menatapku tajam.

   Aku mau tak mau menurutinya. Aku memutar tubuh menyamping padanya. Menatap kabut di depanku yang tidak berubah ketebalannya sedikit pun. Aku ingat-ingat apa yang aku lakukan terakhir kali sebelum berada di sini, tapi aku tidak mengingat apa-apa. Sungguh tidak mengingat apa-apa. Oh ya ampun, aku bahkan tidak ingat aku anak siapa dan siapa anggota keluargaku! Ya ampun, ingatanku telah direnggut oleh—oleh tidak tahu siapa!

   "Lan!" Aku menepuk lengan Lan dengan panik. Lan menoleh padaku dengan wajah terusik. "Aku nggak inget aku anak siapa, siapa keluargaku, di mana tempat tinggalku, dan kapan tanggal lahirku!" ucapku histeris. "Lan, apa kamu inget semua itu?!"

   Lan menggeleng dengan wajah datar. Sama sekali tidak terlihat khawatir dengan itu semua. Aku melongo menatapnya.

   "Kamu nggak khawatir?" tanyaku dan ia menggeleng. "Ini gawat, Lan! Kita nggak ingat apa pun, dan sekarang kita ada di tempat antah berantah ini!" Aku berseru histeris.

   Lan malah tertawa kecil. Lalu geleng-geleng kepala sambil menatapku. Lan tersenyum hangat. Perlahan, kepanikan mereda. Melihat aku telah tenang dan tak panik lagi, Lan mengambil pensilnya, kembali mengerjakan soal-soal matematikanya.

   "Jangan panik, Cahaya," kata Lan beberapa saat kemudian. Ia menoleh padaku dan tersenyum tipis. "Ada aku."




------


FYI, Cerpen ini diambil dari mimpi yang nulis, khi, khi.

See You, J [Cerpen]

 See You, J     Beberapa hari ini kamu merasa sangat bahagia karena menghabiskan waktu dengan orang yang kamu sukai. Bukan sebuah kencan...